Jumat, 22 November 2019

Perkenalan Bapak Marsigit_Sintha Fardu Anggraeni


REFLEKSI PERKULIAHAN FILSAFAT PENDIDIKAN MATEMATIKA BAPAK PROF. MARSIGIT, MA
(SENI BERKENALAN)

Pada tanggal 4 septeber 2019, perkuliahan pertama saya filsafat pendidikan mateatika dengan Bapak Prof. Marsigit di gedung Pascasarjana UNY. Hari pertama perkuliahan diisi dengan seni berkenalan. Seni berkenalan bapak Prof. Marsigit dibagi menjadi dua yaitu seni berkenalan secara klasik dan seni berkenalan secara kontemporer.
 Seni berkenalan secara klasik nama bapak Prof Marsigit artinya MAR “tersamar” maksud dari tersamar disini misal terlihat garang dalam hal yang nampak namun hatinya lembut atau bisa disebut juga dengan kata “tersembunyi”. Tersembunyi itulah yang disebut hakikat ilmu. Ilmu itu tersembunyi, misal jika tidak tersembunyi maka tidak mungkin dari jauh untuk datang ke UNY menuntut ilmu dengan mengikuti perkuliahan. Selanjutnya, untuk arti nama SIGIT itu artinya tampan. Jadi jika diartikan secara menyeluruh orang tampan yang selalu mencari ilmu jika disama artikan dengan tokoh perwayangan adalah Arjuna.  
Seni berkenalan secara kontemporer MARS “planet”, SI (SEE) “melihat”, GIT (GATE) “pintu gerbang”. Jadi diartikan keseluruhan pintu gerbang melihat planet Mars, maka pas kalian (mahasiswa) duduk disini dekat dengan saya dan bergaul dengan saya (bapak Prof Marsigit) untuk menuju ke pintu gerbang Mars. Maksud dari ini mengandung filsafat karena filsafat mengandung ilmu psikologi, ilmu social. Ilmu psikologi untuk motivasi, penyemangati dan inspirasi jadi jika punya nama diberikan arti nama yang baik- baik karena orang tua sudah memberi nama baik- baik maka terjemahkan yang baik- baik untuk memotivasi diri mengenai benar dan tidak itu relative sehingga arti nama yang baik tersebut akan memotivasi diri untuk berlaku yang baik dan arti nama yang baik tersebut sesuai dan sedekat mungkin dengan filsafatnya itu. Sedemikian hingga kehidupan berhubungan dengan kehidupan.

Senin, 18 November 2019

Sintha_Marsigit_Komnetar Blog

Beberapa Komentar Saya pada Blog Pribadi Prof. Dr. Marsigit, M.A.

Pada postingan ini, saya ingin berbagi kumpulan komentar saya terhadap postingan-postingan yang dimuat pada blog pribadi Prof. Dr. Marsigit, M.A. (Guru Besar/Profesor dalam bidang ilmu Pendidikan Matematika dan Filsafat Matematika, Universitas Negeri Yogyakarta), yaitu powermathematics.blogspot.com. Pada blog tersebut, Prof. Marsigit memposting artikel-artikel terkait dengan filsafat, psikologi, spiritual, pendidikan matematika, dan lesson study.

Langsung saja, berikut ini adalah beberapa komentar-komentar saya terhadap postingan pada blog pribadi Prof. Dr. Marsigit, M.A. Semoga bermanfaat.



komentar blog Bapak Prof. Dr. Marsigit, M.A

https://drive.google.com/drive/u/0/my-drive

Senin, 16 September 2019

Sintha_Marsigit_nonton Wayang Bersama Kawan Kampus

ANGGADA DUTA

(Anggada Diutus)

Tugas Kuliah Filsafat Prof. Dr. Marsigit, M.A 

Pada postingan ini, saya ingin berbagi cerita hasil menonton wayang yang merupakan salah satu tugas dari bapak Prof. Dr. Marsigit, M.A. (Guru Besar/Profesor dalam bidang ilmu Pendidikan Matematika dan Filsafat Matematika, Universitas Negeri Yogyakarta) untuk memperkenalkan salah satu seni kebudayaan Yogyakarta yang memiliki nilai sangat baik dalam kehidupan bermasyrakat.

Adegan 1

Lokasi: Di Negara Alengka
Tokoh:

Anggada
Indrajit


prahasta
Rahwana

Dinegara Alengka, Prabu Rahwana merasa sedih karena Sarpakenaka, adiknya, tewas dalam serangan pendahuluan melawan pasukan kera dari Maliawan. Kini, Rama dan sekutunya telah berkemah di gunung Suwalegiri di dalam wilayah Alengka, dan telah bersiap- siap untuk melakukan serbuan.

Tidak lama kemudian, datanglah Anggada, utusan Rama. Anggada memberikan peringatan kepada Rahwana untuk segera menyerahkan Sinta kembali kepada Sri Rama. Jika tidak, maka pasukan Rama akan merebutnya secara paksa dengan mengerahkan kekuatan penuh. Rahwana hampir saja marah mendengar tantangan Anggada, namun ketika Anggada bersumbar bahawa dirinya adalah putra Subali, guru Rahwana di masa lalu, Rahwana mengurungkan niatnya dan bahkan akan menvoba untuk menghasut Anggada.

Diceritakan, ketika Rahwana kemudian menjamu Anggada dengan harapan ia akan berkhianat kepada Rama, ia terlalu yakin bahwa usahannya akan berhasil. Ketika Rahwana lengah, Anggada kemudia merampas mahkota Rahwana dan membawanya pergi ke Suwelagiri. Punggawa Rahwana yang kebingungan berusaha mengejar Anggada, namun Rahwana memerintahkan mereka untuk tenang. Rahwana yang merasa terhina lalu naik ke Suralaya untuk meminta keadilan dari para Dewa.


Adegan 2

Lokasi: Di Kahyangan Suralaya
Tokoh:


Bathara Guru



Rahwana
Bathara Guru yang sedang bersidang dengan Narada, penasihatnya, juga para Dewa, dikejutkan dengan kedatangan Rahwana. Rahwana menggugat Bathara Guru karena selalu memberikan kemenangan kepada Rama dan pasukan keranya, sementara Alengka selalu menderita kekalahan. Ia juga meminta agar diberikan umur panjang supaya dapat mengalahkan Ramawijaya.

Bathara Guru menyetujui permintaan Rahwana dan mengabulkannya, sehingga Rahwana diberikan usia yang panjang tanpa seorangpun tahu kapan ajalnya akan tiba. Namun, di perjalanan Rama yang telah diberi restu oleh Bathara Guru menjalankan siasat sehingga umur panjang yang dikaruniakan kepada Rahwana justru berpindah kepada dirinya. Dengan demikian, ajal Rahwana akan datang kepadanya dalam waktu yang tidak lama lagi.



suasana pertunjukkan wayang kulit di Museum Sonobudoyo